Sahabat Tanpa Batas

Sinar mentari pagi tersenyum manis, semanis coklat ketika cinta melekat, tetesan embun masih membekas di antara rimbunan tumbuhan. Dalam kekosongan jiwa ada kekosongan raga, otakku terus berfikir saat ku lihat langit biru, menatap awan putih yang bersih. Sungguh nikmatnya saat panca indra ini dapat selalu merasakan karunia tuhan, kenikmatan yang tak dapat tergantikan.

Entah mengapa ada yang berbeda di hari minggu ini, tak pernah kubayangkan saat membuka mata ada nuansa dan pengalaman baru di tempat ini. Akankah ini bertahan lama? Selalu berdo’a dan berharap untuk mewujudkan semuanya.

Tersadar dalam anganku ketika telephoneku berdering, ku baca pesan singkat yang terkirim, sahabat lamaku mengundang berlibur ke pantai untuk menghabiskan waktu liburan hari ini. Riang bukan kepalang tanpa berfikir panjang kuiyakan ajakannya. Bergegas kumenyiapkan segala perlengkapan untuk segera berangkat. Karena kebetulan ada jadwal pemadaman listrik seharian di komplekku, kusampaikan ajakan sahabatku pada suamiku, dayung bersambut suamiku menerima ajakanku.

Tak butuh waktu lama kami siap untuk berangkat ke tempat tujuan. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 WIB, tak lama adik yunior tempat suamiku bekerja mengajak kami untuk berenang bersama di komplek perumahan ARUN sebuah pertambangan milik pertamina yang di kelola oleh swasta di kota lhokseumawe, Aceh. Tempat ini merupakan tempat favorit dijadikan pusat rekreasi para penduduk Lhokseumawe. Kota kecil dengan penduduknya yang rukun, ramah dan damai itulah prinsip mereka, sejak perselisihan dengan GAM berakhir kota ini menjadi lebih tenang.

Memasuki komplek perumahan arun, sangat terasa suasana kemewahan di tempat ini, dibandingkan dengan perkembangan di pusat kota, mobil mewah di setiap rumah, kondisi bangunan yang kokoh dan megah. Setibanya ku di tempat berenang, kulihat adek-adek yunior suamiku sudah berkumpul di sana. Canda tawa penuh keceriaan terlihat dari ekspresi mereka seperti tak ada beban yang mereka rasakan.

“selamat siang” sapaku pada mereka,
“siang mbak, pha kabar mbak?
“alhamdlillah baik, Loh, kalian gak ikut nyemplung nih? lumayan gak usah beli air, kan di rumah listrik mati, hehehehe ( candaku meledek mereka )

Keakraban antara kami seperti keluarga tak ada jarak antara senior ataupun yunior, aku anggap mereka adalah adek-adek terbaikku yang aku miliki di tempat baru ini. Walaupun umur kita terpaut jauh tapi tak ada batas di antara kami, yang membedakan hanya pada saat kita menggunakan seragam dinas. Selebihnya kita satu yang selalu bersatu dalam ikatan keluarga yang menyatu.

Entah berapa menit kemudian datang seorang senior kebetulan beliau juga akrab dengan kami, suasana semakin ramai berkumpul bersama di hari untuk keluarga, menghabiskan waktu untuk saling berbagi. Cahaya matahari mulai terasa saat sinarnya yang menyengat menusuk seluruh tubuh, membakar kalori untuk segera pergi mencari tempat yang lebih teduh.

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, anak-anak juga sudah terlihat lelah setelah lama menenggelamkan tubuhnya di kolam renang. Kami bersiap bergegas untuk melanjutkan jadwal berlibur selanjutnya. Setelah berenang ada sesuatu yang harus dilakukan sebelum melanjutkann perjalanan, karna ada suara berteriak dari dalam diri, yaitu perut yang mulai bergemuruh untuk segera di isi bahan bakarnya. Kami sepakat untuk makan di sebuah rumah makan penjual Mpek-mpek yang terkenal dengan kelezatannya.

“saya pesen mpek-mpek lenggangnya satu dengan jeruk panas ya!, pintaku pada seorang pelayan ( banyak di antara yang lain memesan kapal selam, lenjer dengan da’an)

Perut sudah terisi kenikmatan duniawi, mengucap syukur atas apa yang kudapatkan hari ini. Perjalanan kami lanjutkan menuju ke pantai RANCU, nama yang cukup asing terdengar di telinga (istilah orang jawa “RANCU ” itu berarti susah/membingungkan) saat kami mulai masuk ke tempat ini kami lalu di sambut penuh kehangatan dengan rombongan sapi dan domba yang lalu lalang di sepanjang jalan, seolah mereka pemilik kekuasaan di tempat ini. Berjalan penuh percaya diri seperti ingin mati dan berharap bisa hidup kembali. (huft, pengalaman yang sangat berkesan). Tempatnya yang cukup sederhana namun banyak sekali peminatnya, air pantai yang tidak begitu jernih namun lumayan bersih, daerah pesisir pantai yang indah, angin sejuk berhembembus kencang, deru ombak di pantai begitu bergemuruh, sungguh besar segala ciptaan tuhan yang harus selalu kita jaga.

  • Alhamdulillah Masih di Beri Kenikmatan

    terbangun di pagi hari, dan mendapati semua orang di seluruh dunia telah menghilang.

    Hari itu, jam menunjukkan pukul 07.15, alarm berdering memenuhi seisi kamar. Dengan malas Agami bangkit dan segera menuju ke kamar mandi. Hari-hari yang membosankan segera dimulai kembali, pikirnya.

    Namanya Agami, Agami Blaster. Ia adalah seorang remaja yang selamat dari musibah dahsyat yang sedang terjadi di muka bumi ini, wabah virus ZOMBIE. Terkadang, dia rindu dengan suara lembut Ibunya yang selalu membangunkannya di pagi hari.

    Setelah selesai mandi, langsung menduduki salah satu dari sekian banyaknya kursi di dapur. Ia mulai menyiapkan sarapan paginya, lalu segera menyantapnya.

    Seperti biasanya, Agami tidak memiliki kesibukan apapun. Kegiatan yang selalu dia lakukan adalah melamun, dan terus melamun. Dalam benaknya, melamun adalah satu-satunya cara agar ia bisa bertahan hidup. Di setiap pagi hingga malam, ia selalu merasakan kegelisahan hebat. Kegelisahan itu tidak dapat ia bendung.

    Agami mulai melangkahkan kakinya di jalanan kota Townsfell yang dingin. Dia menatap rumah-rumah yang kosong melontang berjejer mengitarinya saat ini. Pemandangan itu sudah biasa baginya. Suasana sepi nan sunyi selalu menyelimutinya, Tidak ada sepatah kata yang bisa ia ucapkan sekarang. Ia merasakan dirinya seperti mati ekspresi. Senang, marah dan gembira seolah-olah tidak ada lagi dalam dirinya.

    Setelah berjalan sekitar 7 kilometer jauhnya, agami memasuki sebuah Mall berukuran sangat besar.
    “TREEKK.. TEK.. TEEKK” suara koin yang dimasukkan Agami ke dalam sebuah mesin minuman.
    Sepertinya rasa segar sedang meluputi tenggorokannya sekarang. Dia menatap ke segala penjuru mall. Ia mulai bangkit. Terdengar langkah kakinya menggema ke segala arah, saking sepinya.

    Agami menatap barang-barang yang berantakan berserakan di mana-mana. Ia kembali merasakan kenyataan pahit yang dialaminya. Ternyata, dulu mall ini adalah tempat dimana keluarganya meninggal. Pekik tangis tak bisa ia bendung. Di setiap ia memikirkan keluarganya, di sanalah tempat di mana setetes demi tetes air bercucuran.

    Suasana sepi masih mencekam. terus melangkahkan kakinya ke arah sebuah lift.
    “TUIIIII… GUBRAKK!!”
    Suara lift yang dinaiki Agami berhenti seketika. Macat ya?
    Sudah hidup sendiri di kota mati, sekarang? Malah terjebak di lift. Siapa yang mau menolongnya sekarang? Tak ada satupun. Benar malang nasibnya. Dia cuma bisa memejamkan matanya dan duduk jongkok dengan tangan memegang kaki. Berharap, Tuhan akan menolongnya.

    TEK-TEK-TEK
    bunyi itu membangunkan Agami dari tidur pulasnya. Ternyata dia tertidur paska kejadian tersebut.
    Sungguh ajaib! Lift yang tadinya tertutup rapat tak mau dibuka, sekarang terbuka dengan lebarnya. Agami mulai bergegas keluar dari lift tersebut, dan menuju ke ruangan yang sebenarnya ia inginkan dari kemarin. Ruangan itu adalah tempat dimana pakaian tersedia. Ia mulai memilih-milih pakaian yang cocok untuknya. Ia bebas memilih. Dan yang pasti, semua yang ia inginkan gratis. Dari makanan, barang-barang, hingga kendaraan bisa ia dapatkan dengan cuma-cuma.

    Agami mulai keluar dari mall tersebut. Ia berjalan kembali menuju tempat persemayaman pertamanya. Dia bertanya-tanya. Apakah hanya ada aku di kota ini? Atau hanya ada aku di dunia ini? Agami mulai gelisah. Ia menatap langit yang luas, langit yang tadinya biru sekarang berubah menjadi agak kejingga-jinggaan.

    “Dulu kota ini adalah kota dimana para manusia berlindung! Kota dimana penuh dengan kebisingan, kegembiraan dan canda tawa! Coba saja musibah ini tidak terjadi, pasti nasibku tidak akan seperti ini!” Teriaknya.

    “Namaku Agami. Remaja yang hidup sendiri di kota besar Townsfell. Kuharap ada orang yang mendengar pesanku ini”. Ucap agami pada sebuah telepon di gedung Townsfell.
    “……….”
    “KRSEEKK.. KRSEEKK”
    “Halo? Apa ada orang? Aku Ray dan aku bersama Temanku Riona! Sekali lagi apa ada orang?!”

    Bersambung…

    Depo Tirta Faries

Kami menuju pada satu tempat bernuansa seperti café namun tidak terlalu besar, tapi ada suatu yang berbeda di sana kita bisa mengekspresikan diri dengan bernyanyi. Bukan sistem seperti inul vista, NAV, ato tempat karouke lainnya, tapi cukup untuk menghilangkan penat sesaat saat kita jauh dari kehidupan kota yang hingar bingar. Melantunkan beberapa lagu ditemani suara ombak di pantai membuat suasana semakin begitu nyaman, ingin rasanya berlama-lama di tempat ini namun apa daya hari sudah mulai sore, saatnya kami bergegas pulang untuk mempersiapkan melanjutkan kegiatan untuk esok hari.

Liburan menyenangkan tanpa beban namun penuh dengan kenangan, berharap semoga bisa mengulangi untuk kesekian kalinya. Kami mulai berpisah untuk melanjutkan keperluan masing-masing.
“okey adek-adekku lain kali kita liburan bareng lagi ya! Smoga banyak hal dan pengalaman yang bisa dapatkan hari ini”
“sama-sama mbak, kami mohon ijin untuk pulang duluan ya mbak, terima kasih untuk hari ini ya mbak! Sampai ketemu di lain waktu dengan hal yang baru”
Kami saling berpamitan dan berpelukan bertanda saatnya untuk pulang,
Will miss you all my kindness sisters, see you all next time…

Kebersamaan terwujud karena persahabatan
Tak ada yang abadi jika kita saling tidak peduli
Merangkul, berpelukan dan bergandeng tangan
Untuk mewujudkan sebuah keakraban
Kekeluargaan hadir tanpa keterpaksaan
Semua hadir karena sebuah cinta
Karena cinta kita akan selalu bersama
Bersama melangkah menjadi pribadi yang lebih baik…

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s