Alhamdulillah Masih di Beri Kenikmatan

terbangun di pagi hari, dan mendapati semua orang di seluruh dunia telah menghilang.

Hari itu, jam menunjukkan pukul 07.15, alarm berdering memenuhi seisi kamar. Dengan malas Agami bangkit dan segera menuju ke kamar mandi. Hari-hari yang membosankan segera dimulai kembali, pikirnya.

Namanya Agami, Agami Blaster. Ia adalah seorang remaja yang selamat dari musibah dahsyat yang sedang terjadi di muka bumi ini, wabah virus ZOMBIE. Terkadang, dia rindu dengan suara lembut Ibunya yang selalu membangunkannya di pagi hari.

Setelah selesai mandi, langsung menduduki salah satu dari sekian banyaknya kursi di dapur. Ia mulai menyiapkan sarapan paginya, lalu segera menyantapnya.

Seperti biasanya, Agami tidak memiliki kesibukan apapun. Kegiatan yang selalu dia lakukan adalah melamun, dan terus melamun. Dalam benaknya, melamun adalah satu-satunya cara agar ia bisa bertahan hidup. Di setiap pagi hingga malam, ia selalu merasakan kegelisahan hebat. Kegelisahan itu tidak dapat ia bendung.

Agami mulai melangkahkan kakinya di jalanan kota Townsfell yang dingin. Dia menatap rumah-rumah yang kosong melontang berjejer mengitarinya saat ini. Pemandangan itu sudah biasa baginya. Suasana sepi nan sunyi selalu menyelimutinya, Tidak ada sepatah kata yang bisa ia ucapkan sekarang. Ia merasakan dirinya seperti mati ekspresi. Senang, marah dan gembira seolah-olah tidak ada lagi dalam dirinya.

Setelah berjalan sekitar 7 kilometer jauhnya, agami memasuki sebuah Mall berukuran sangat besar.
“TREEKK.. TEK.. TEEKK” suara koin yang dimasukkan Agami ke dalam sebuah mesin minuman.
Sepertinya rasa segar sedang meluputi tenggorokannya sekarang. Dia menatap ke segala penjuru mall. Ia mulai bangkit. Terdengar langkah kakinya menggema ke segala arah, saking sepinya.

Agami menatap barang-barang yang berantakan berserakan di mana-mana. Ia kembali merasakan kenyataan pahit yang dialaminya. Ternyata, dulu mall ini adalah tempat dimana keluarganya meninggal. Pekik tangis tak bisa ia bendung. Di setiap ia memikirkan keluarganya, di sanalah tempat di mana setetes demi tetes air bercucuran.

Suasana sepi masih mencekam. terus melangkahkan kakinya ke arah sebuah lift.
“TUIIIII… GUBRAKK!!”
Suara lift yang dinaiki Agami berhenti seketika. Macat ya?
Sudah hidup sendiri di kota mati, sekarang? Malah terjebak di lift. Siapa yang mau menolongnya sekarang? Tak ada satupun. Benar malang nasibnya. Dia cuma bisa memejamkan matanya dan duduk jongkok dengan tangan memegang kaki. Berharap, Tuhan akan menolongnya.

TEK-TEK-TEK
bunyi itu membangunkan Agami dari tidur pulasnya. Ternyata dia tertidur paska kejadian tersebut.
Sungguh ajaib! Lift yang tadinya tertutup rapat tak mau dibuka, sekarang terbuka dengan lebarnya. Agami mulai bergegas keluar dari lift tersebut, dan menuju ke ruangan yang sebenarnya ia inginkan dari kemarin. Ruangan itu adalah tempat dimana pakaian tersedia. Ia mulai memilih-milih pakaian yang cocok untuknya. Ia bebas memilih. Dan yang pasti, semua yang ia inginkan gratis. Dari makanan, barang-barang, hingga kendaraan bisa ia dapatkan dengan cuma-cuma.

  • Annisa Azizah si Kecil Yang Aktif Ya Bund

    Tangisanmu membawa kebahagiaan bagiku dan ibumu. Wajahmu cantik mirip ibumu. Setelah satu tahun menikah akhirnya kamu ada. Kamu yang membuat suasana rumah jadi ramai, dengan tangisanmu dan tawa ceriamu. “Annisa Azizah” yang artinya “Perempuan Mulia” nama itu kuberikan padamu. Nama yang menjadi doa untukmu, semoga kamu menjadi perempuan yang mulia akhlaknya, mulia ilmunya, mulia perkataannya, dan selalu memuliakan orang lain. Aku sangat bersyukur melihat kamu tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, cantik dan ceria.

    Saat kamu duduk di bangku SD, kamu masih manja denganku atau ibumu. Aku sangat rindu tingkah manjamu itu. Kamu suka boneka, kamu suka eskrim, kamu suka balon, kamu suka kucing, dan kamu suka bermain dengan hujan.
    Kamu tidak suka gelap, saat gelap tidak ada cahaya lalu kamu akan menangis dan menjerit, saat itu aku akan langsung memelukmu.

    Saat kamu duduk di bangku SMP, kamu sudah lebih mandiri dan berani. Kamu anak yang berpretasi dan membanggakan aku dan ibumu. Kamu sering mengikuti lomba pidato, lomba puisi, lomba menyanyi, dan kamu selalu mendapat juara.
    Kamu mulai menghabiskan waktu dengan teman-teman sekolahmu. Kamu juga sudah bercerita tentang laki-laki yang kamu sukai. Aku pernah bilang padamu
    “Kalau Nisa mau pacaran boleh, yang penting jangan sampai mengganggu belajar dan sekolahmu”
    Tapi kamu malah menjawab
    “Enggak yah, Nisa belum mau pacaran dulu. Nisa mau fokus sekolah dan punya banyak prestasi”
    Aku dan ibumu memelukmu dengan sangat erat.

    Saat kamu duduk di bangku SMA, kamu menjadi remaja yang cantik. Banyak laki-laki yang mendekatimu. Tapi kamu tidak mempedulikan mereka, kamu hanya memikirkan sekolah dan prestasimu.

    Dan saat itu adalah saat mimpi buruk itu terjadi. Ibumu yang sedang pergi ke pasar mengalami kecelakaan maut, dan itu merenggut nyawa ibumu. Aku kehilangan satu bidadariku. Kamu menangis aku memeluk menenangkanmu.

    Suatu malam kamu memelukku erat, sambil menangis kamu berkata
    “Aku sayang Ayah”
    Aku balas pelukanmu dan menghapus air matamu.
    “Kamu dan Ibumu adalah orang yang paling Ayah sayangi, dan meskipun kamu kehilangan Ibumu, kamu harus tetap tegar. Kamu harus tetap menjadi Nisa yang cerdas, ceria dan berani. Ayah selalu bersamamu, Ayah selalu mendoakanmu dan mendukungmu. Ayah sangat menyayangimu”.

    Kamu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Denyut nadimu sudah tak berasa, nafasmu tak berhembus lagi, wajahmu pucat. Aku panggil-panggil namamu, aku tepuk-tepuk pipimu, kamu diam saja tak merespon. Aku menangis memelukmu.

    Penyakit kanker itu merenggut nyawamu, aku kehilangan lagi satu bidadariku. Saat penyakit itu kambuh, aku selalu menceritakan kisah hidupmu, dan itu membuatmu merasa tenang. Dan sekarang, adalah menjadi cerita terakhirku untukmu. Kini aku hanya bisa melihat tempat peristirahatan terakhirmu, bersama ibumu di sampingmu.

    http://ifutcoy.blogspot.com

Agami mulai keluar dari mall tersebut. Ia berjalan kembali menuju tempat persemayaman pertamanya. Dia bertanya-tanya. Apakah hanya ada aku di kota ini? Atau hanya ada aku di dunia ini? Agami mulai gelisah. Ia menatap langit yang luas, langit yang tadinya biru sekarang berubah menjadi agak kejingga-jinggaan.

“Dulu kota ini adalah kota dimana para manusia berlindung! Kota dimana penuh dengan kebisingan, kegembiraan dan canda tawa! Coba saja musibah ini tidak terjadi, pasti nasibku tidak akan seperti ini!” Teriaknya.

“Namaku Agami. Remaja yang hidup sendiri di kota besar Townsfell. Kuharap ada orang yang mendengar pesanku ini”. Ucap agami pada sebuah telepon di gedung Townsfell.
“……….”
“KRSEEKK.. KRSEEKK”
“Halo? Apa ada orang? Aku Ray dan aku bersama Temanku Riona! Sekali lagi apa ada orang?!”

Bersambung…

Depo Tirta Faries

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s